Kutitipi puisi ini
anyaman kata-kata dan perasaan
tentang signkatnya pertemuan
di gedung ilmu
segalanya pun berlalu
di lembaran-lembaran waktu
menjadi kenangan
tak terlupakan
Kita sering mencari makna
pada setiap senyum yang terlukis
namun tak siapa pun
pernah tahu dan menduga
tentang tafsiran keindahan
bak bunga yang ungu
mekar harum diusap pawana
menjadi hiasan di kepala
pada rambut panjangnya menyentuh bahu
“Tuai padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Intai kami antara nampak
Esok jangan rindu-rinduan”
Kerana di hadapan kita
adalah laut biru bergelombang
luas tak bertepi tak terperi
gelora membadai dan mencabar
kekukuhan iman dan keyakinan
bakal menjadikan pelabuhan
No comments:
Post a Comment